Hari Indah di Samosir

8:09 PM Andri Zainal Kari 0 Comments

Saya pernah membaca suatu artikel traveling yang inti dari artikel itu adalah, mencari rekomendasi tempat wisata terbagus itu bukanlah dari internet, tapi penduduk lokal. Saya pun mengamini perkataan itu, karena perjalanan saya selama di Sumatera Utara ini memang berdasarkan rekomendasi dari teman-teman saya penduduk asli sana. Termasuk tujuan wisata kami pagi ini di Pulau Samosir.

Gambar 1. Fajar di Pulau Samosir

Meskipun gagal mengejar matahari kemarin, kami tetap ingin melihat keindahan matahari di danau ini. Pengurus hotel yang kami inapi merekomendasikan beberapa puncak, diantaranya Puncak Beta, dan Puncak Sipira. Katanya, Puncak Beta sudah lumrah dan biasa saja, sedangkan Puncak Sipira jarang di kunjungi dan lebih bagus daripada Puncak Beta. Jalan ke Sipira juga gampang, mengikuti satu-satunya jalan yang beraspal ke arah selatan.

Kami sudah bersiap-siap sejak jam empat pagi, saking niatnya menemui senyum matahari pagi. Kami susuri bibir timur samosir dalam kegelapan, hingga langit pun mulai kebiruan.

Sayang, matahari dan langit tidak berdua. Bumi saat itu pun di selimuti awan. Sehingga, ya.. Tau sendiri. Senyum matahari pagi itu di sembunyikan oleh gerombolan awan yang mungkin juga merindukan terik pagi itu. Yasudahlah, kami harus mengalah dengan sang awan.


Gambar 2. Danau Toba Berselimut Awan

Tidak ada sedikit pun rasa sesal dan kesal. Karena apa yang kami temukan di sepanjang perjalanan sangat menawan. Jalanan berbelok-belok dan mendaki. Menemui lembah bahkan air terjun. Lalu melihat danau toba dari ketinggian. Itu sudah lengkap dan menyenangkan. Mata, fikiran, dan hati pun puas. Jadi kami tidak menganggap ini kegagalan mengejar matahari.

Gambar 3. View Toba dari Ketinggian. Menyejukkan Mata, Hati, dan Fikiran.

Gambar 5. Air Terjun Beserta Pondokan Bercorak Batak yang Ditemui di Jalanan
Ada sedikit cerita, di tengah perjalanan, kami ingin memastikan keberadaan puncak yang kami tanya. Kami tanyakan kepada orang yang kami temui di jalan, kebetulan ada ibu-ibu dan kami tanyakan kepada beliau. Namun, teman saya yang saat itu bertanya, menyapa beliau dengan panggilan "opung" atau "nenek". Entah sengaja atau gimana, jalan yang diarahkan oleh ibu tadi entah kemana. Kami melewati puncak perbukitan dengan jalan berbatu dan berjurang. Ketemu rumah lainnya, dan kembali bertanya, ternyata jalanan ini menuju kampung yang lain. Entah kampung apa namanya. Haha. Akhirnya kami memutar balik kendaraan ke jalan semula.

Tidak hanya itu, saat itu kondisi bensin kendaraan sudah kosong. Arah jarum petunjuk sudah diskala merah menuju empty. BAH! Mana tidak ada pom bensin, secara ini desa dan hamparan sabana semak belukar. Untungnya, disaat minuman mobil sudah sampai di titik nadir, kami menemukan rumah yang menjual bensin eceran. Warung kecil mereka mungkin belum buka, namun pintu rumahnya sudah menganga. Dari pada nanti repot, akhirnya kami beranikan mengetok rumah itu. Syukurlah, dengan ramah tulang-tulang (om-om) itu mau menjual bensinnya. Disini mengubah persepsi negatif saya tentang orang batak yang garang, ternyata mereka ramah dan suka senyum.

Setelah puas di puncak ini, kami pun kembali ke arah Tuk-Tuk tempat kami menginap tadi malam, dan singgah sebentar ke komplek batu Raja Sidabutar, mendengarkan sejarah dari opung-opung dan boru-boru disana sambil mengenakan ulos.


Gambar 6. Mendengar Cerita dari Opung tentang Sejarah Batak
Saya agak lupa dengan sejarah yang diceritakan, entah kemana fikiran saya saat itu. Seingat saya, ada beberapa poin yang disampaikan saat itu:

1. Orang yang bersuku batak itu tidak mesti beragama Kristen, karena batak itu sendiri sebenarnya sudah ada sebelum kristen masuk ke Indonesia. Sehingga jangan heran kalau ada orang muslim yang juga batak. Di iyakan oleh bang Ando, orang batak asli.

Gambar 7. Dengar Cerita Sejarah Pakai Ulos, Bareng Bang Ando dan Eca.

2. Orang batak itu tidak boleh nikah sesuku, dan bujang-bujang bataknya disarankan untuk mencari pasangan hidup yang berbadan montok. Makanya empat buah payudara wanita menjadi simbol dari batak.
3. Orang batak, pasti 'ingat' kampung halaman.
4. Tulang-tulang pengabdi raja sidabutar, meskipun di kubur di ujung dunia, tulangnya tetap di pulangkan ke samosir.

Kurang lebih itu lah poin-poin random yang saya tangkap dari opung-opung dan boru-boru itu. Padahal sudah mendengar cerita dari dua tempat dan dua kali saat itu, masih aja nggak nangkep semua ceritanya. Berarti, saya harus kembali ke Samosir. Hehe.

Gambar 8. Dengar Cerita Boru tentang Batak

Sekian cerita kali ini, pokoknya kalau ke Samosir, wajib dengar sejarah Batak Ya. Yunggu postingan berikutnya. Hehe


Selamat Berkelana!


Andri (Zainal Kari)

0 komentar: