Parno Terbang dan KLIA 2

5:33 AM Andri Zainal Kari 0 Comments

Kerjaan tengah malam sebelum tidur. Entah apa maknanya. Nggak ada yang tau.
Perjalanan kali ini sebenarnya cukup menakutkan, bagi saya pribadi. Sebenarnya karena ditakut-takutkan juga oleh beberapa teman saya, karena maskapai yang akan mengantarkan saya dari Sepinggan ke Kuala Lumpur adalah Air Asia, yang beberapa hari sebelumnya mengalami crash di laut Jawa. Ya, QZ 8501 -semoga seluruh korban meninggal dalam keadaan baik (I mean khusnul khotimah), dan keluarga yang ditinggalkan bisa ikhlas-.

"Ndri, sebaiknya di cancel saja, saya ada firasat buruk buat kamu"

"Ndri, naik Air Asia? Hati-hati aja ya! Pastikan life vest nya ada di bawah kursi ya!"

"Ndri, kalau dari Balikpapan ke Kuala Lumpur, nggak lewat laut dong? Pesawatnya membelah pulau Kalimantan! Tambah serem dong!"

Dan berbagai "Ndri" lainnya.

Beberapa juga meyakinkan saya, seperti Ja'far yang berjiwa HSE tinggi mengatakan: "Biasanya, kalau ada insiden, untuk seterusnya orang akan menjadi lebih berhati-hati."

Make sense! dan itulah yang meyakinkan saya kalau perjalanan akan baik-baik saja.

Perjalanan dari penginapan ke Bandara, bisa menggunakan angkot! Wow! Jadi nggak ribet nyari Damri. Jadilah saya sudah prepare 4 jam sebelum keberangkatan mencari angkot (atau taksi-nya orang Balikpapan). Karena ini angkot. Harus ngetem. Lama. Dsb.

Ternyata setengah jam udah sampai dengan menaiki dua angkot, dan tidak terlalu ngetem dan lama. Mungkin karena ongkosnya mahal, jadi service nya juga oke kali ya. Jauh dekat, Rp. 5.000. Makjleb juga.

Tampak luar Sepinggan. Dari samping sih, kalau dari depan atau atas lebih keren lagi.

Airportnya persis di tepi jalan, dan bagunannya luar biasa megahnya! Lumayan jauh sih jalan dari trotoar ke pintu keberangkatan, cuma dengan memandang-mandang ke bangunan bandara, jadi nggak berasa. Ketika saya masuk ke dalam airport yang keren banget itu, saya tepuk tangan (dalam hati. bisa ya?), karena airportnya keren banget, apalagi untuk sebuah Kota Madya, bukan ibu kota provinsi. Kabarnya, untuk landasan ada di atas laut, kaya di Bali. Lebih kerennya lagi saya dapat info kalau bandara ini bandara terbaik no 16 di dunia! Bravo!

Sekilas, interior dalamnya mirip dengan Indira Gandhi Airport di New Delhi‎, cuma bangunan ini masih baru banget. Jadi belum terlalu rame dan masih banyak space yang kosong. Ga tau deh kalau sekarang. Untung juga saya berangkat lebih awal karena saya bisa keliling airport dulu.

Ketika di atas pesawat, sebenarnya saya nggak tenang. Terus waspada, tapi muka panik dan pucat. Dipaksa untuk tidur tapi nggak bisa. 

Saya juga yakin, kalau saya bukanlah satu-satunya orang yang panik di dalam burung besi merah ini. Pasalnya ada satu kejadian, di tengah perjalanan, sekitar satu jam perjalanan, terdengar suara dentuman yang keras. Lumayan keras, yang menyadarkan diri saya yang udah mau tidur atau lagi setengah tidur. Semua orang mengeluarkan suara panik dan melihat ke sumber suara yang ada di belakang pesawat. Sampai ada yang langsung istighfar. Tau nya, itu bapak-bapak yang kekurung di toilet dan ga bisa buka pintu. Jadilah dia menggedor pintu sekeras mungkin. kesal.

*****

Alhamdulillah, mendarat dengan selamat. Urusan imigrasi selesai, dan tinggal bertemu dengan kawan saya Rusydan yang akan landing setengah jam setelah saya. Kami janjian untuk bertemu di McD, atas usulan saya. Karena seingat saya dulu, keluar-keluar imigrasi bakal ketemu McD di pintu keluar.

Ternyata, dulu di LCCT atau Low Cost Carrier Terminalnya. Sekarang, Air Asia turunnya di KLIA 2, Airport yang gedenya, yang mall nya lebih besar dari pada ruang tunggu-ruang tunggu airportnya. Untuk mencari McD lumayan susah, harus belok kiri kanan dan naik turun.

Setelah Rusydan landing dan selesai juga dengan urusan imigrasinya, jadilah kami cari-carian satu sama lainnya. Untung ada free internet dan bisa komunikasi via WA. Tapi dengan kondisi ada alat komunikasi itu saja, proses cari mencari itu pun berlangsung selama 1 jam! Karena meeting point di ganti ke Old Town White Coffee, dan di KLIA2 itu ada lusinan Old Town White Coffee. Lebay sih. Tapi intinya banyak.

*****

Jazmie dan Afif, budak Malaysia rekannya Rusydan menjemput kami di Airport dan mengantarkan kami dengan mobil mini nya ke hostel kami untuk malam pertama ini di daerah Chow Kit. Hanya untuk malam ini saja. Untuk malam-malam seterusnya di sekitaran Kuala Lumpur, kami akan di hosting oleh Jazmie di rumahnya di daerah Klang.

Me, Jazmie and Rusydan. Sayang, tidak sempat berkodak dengan Afif.

Oya, tidak diantarkan dengan mobil sampai ke Hostel. Karena ketika itu rush hour dan takut kejebak macet, mereka berinisiatif untuk memarkirkan mobil disuatu tempat dan berangkat ke Chow Kit dengan kendaraan umum. Mereka ngotot pengen nganter, meskipun kami sudah bilang kalau kami bisa pergi sendiri dengan bantuan peta.

Kenapa saya ingat kalau kami tidak diantar sampai ke hostel? Karena ketika masuk ketempat itu, salah satu dari kami ada yang nyeletuk:

"kita di bawa kemana sih? ke airport lagi ya?"

Taunya, itu terminal yang menghubungkan kereta dan bus. Iya, bangunannya bagus kaya airport. Maklum, kami orang Indonesia yang tidak/belum punya fasilitas umum yang seperti itu. gondok.

Sampai hostel. Check in. Makan di warung mamak terdekat (yang kata si Rusydan enak banget, dan dia bakal makan disana terus selama di Kuala Lumpur). Afif dan Jazmie pamit. Kami beberes. Malamnya, makan nasi lemak di sekitaran hostel. Lalu tidur, agar fit untuk perjalanan esok hari.

Suasana ruang tamu hostel yang lumayan kozi lah.


Selamat Berkelana, Semoga Kita Bersua


Andri (Zainal Kari).



----------------
Cerita ini masuk kedalam kategori: 16 Hari Luar Biasa!

0 komentar: