Perjalanan itu Masih Berlanjut!

8:33 AM Andri Zainal Kari 0 Comments

Kota itu begitu indah dan megah. Gemerlap lampu malamnya membuat mataku tidak bisa berkedip. Pantulan cahaya lampu kota di air, membuat suasana kota itu semakin hidup. Membuat ku benar-benar terpaku bak pasak yang sedang menahan tiang.
"Indah nya kota Vancouver ini", gumamku. Aku senang bisa berada disini.
"Oke pak, saatnya kita berhenti dan istirahat makan" Kata suara yang tak ku kenal. Pandangan kota tiba-tiba kabur, lalu menghilang.
Pandangan itu berubah menjadi bangku kendaraan beroda empat. Ya, aku masih berada di perjalanan; Ya, ternyata suara itu berasal dari driver yang akan mengantarkan ku ke Balikpapan; Dan ya, aku hanya bermimpi tentang Vancouver.
Reflek ku cek gps di seluler pintar ku, dan ia menunjukkan bahwa kota Balikpapan sudah tidak terlalu jauh. Aku bersegera turun, dan langsung menuju sumber makanan.
Beragam menu yang disajikan, namun seleraku  hanya tergugah ketika melihat udang-udang merah merekah disebelah tumisan cumi.
Kupastikan ke sang penjual, bahwa ini adalah udang laut, dan Ia bisa memastikan hal itu. Lalu kuambil udang itu dan tidak lupa cuminya. Haha.
Ketika ku makan, jezzz... Ternyata itu adalah udang sungai atau Udang Jala yang sangat ku kenal sekali rasanya. Aku sangat suka rasanya karena jauh lebih enak dan lezat dibandingkan udang laut. Jauh lebih gurih. Jauh lebih beraroma.
Tapi sayang, entah sejak kapan aku alergi dengan jenis makanan super lezat ini. Seingat ku, waktu kecil dulu, aku aman-aman saja menyantap udang jala buatan ibu ku. Tapi sejak beberapa tahun belakangan, aku sudah terfonis oleh keadaan tidak bisa mengkonsumsi itu lagi.
Kali ini aku mengesampingkan kealergian itu, aku lahap semua udang itu sampai habis. ah.. Nikmaaatt..
Sekarang tinggal menanggung resikonya. Perut dan kulitku sudah mulai bereaksi. Kontan ku pesan dua teh tawar, yang ku yakini juga bisa menjadi penawar gejala ini.
Mobil akhirnya berangkat. Ditengah jalan, aku tidak bisa tertidur lagi. Disamping sudah dekat, badan ku juga harus menahan efek dari udang tadi. Sepertinya dua gelas teh itu belum cukup.
Tiba-tiba kami menepi di pelabuhan. Aku pun bingung. Kenapa pelabuhan?
Ternyata, untuk mencapai kota Balikpapan, kami harus menyebrangi teluk menaiki kapal RoRo atau kapal Ferry.
Untungnya, di atas kapal ada kantin dan tidak tanggung-tannggung aku menghabiskan tiga gelas teh tawar lagi. Efek udang pun hilang. Syukurlah. Akhirnya aku bisa menikmati angin malam diatas kapal itu.
Gerak laju kapal itu sungguh tidak terasa sama sekali. Namun anginnya bisa menembus dada. Aku hanya bisa bersembunyi di dock belakang kapal untuk menghindari hembusan itu. Sambil memandang gemerlap malam kota Balikpapan. Walaupun tak seindah Kota Vancouver yang tadi ku mimpikan, tapi ini juga indah. Bisa membayar perjalanan darat kejam yang sudah ber-jam-jam itu.
Penampakan Kota Balikpapan di Malam Hari, difoto dengan Asus Zenfone 4
****

Aku teringat akan usaha rekan-rekan kerja ku yang berasal dari Balikpapan, untuk memberikan ku saran akan penginapan di kota mahal itu. Meskipun dari perusahaan sudah menyediakan mes untuk transit, hanya saja aku perlu tempat sendiri untuk lau-lau (bahasa untuk bermalas-malasan) sampai siang hari tanpa di ganggu dan tanpa ada rasa tidak enak ke siapa pun. Haha. Itu rencana ku.
Namun ternyata, biaya hotel di Balikpapan bagaikan menjangkau awan dari bumi. Jadi ku cari saja guess house yang minimal ada air conditioner nya. Ku list, dan kutanyakan ke rekan kerja ku itu. Namun tidak ada yang mereka rekomendasikan, karena letaknya di tempat yang jauh dari pusat kota. HUFT kataku. Apa tinggal di mes saja?
****

Aku pernah membaca satu hal pada saat blogwalking di blog travelling, bahwa semakin murah harga tiket dan harga hotel yang didapat, semakin bangga lah sang traveller. Aku mengamini itu. Betapa senangnya aku bisa mendapatkan biaya perjalanan dan akomodasi yang walaupun hanya beberapa ratus ribu saja.
Aku terus menggali informasi di Internet, dan menemukan sebuah guest house yang tidak jauh dari pusat kota dan terkesan indah, di blogspot yang mereka punya. Tentunya dengan biaya yang sangat terjangkau, itu yang paling penting. Hehe
****

Driver akhirnya men-drop ku di depan guest house, saat itu tepat tengah malam. Kalau aku update status di media sosial, mungkin aku sudah check-in dan memberi caption "kasur mana kasur!". Tapi aku tidak lakukan hal itu. Karena aku tidak ada waktu untuk melakukan itu dan sungguh ingin bertemu kasur untuk meluruskan badan yang sudah terlipat-lipat karena perjalanan panjang itu.
Petugas guest house memberi ku kunci, dan aku bergegas mengangkat barang ku ke kamar. Kunci itu ada 3 kunci yang berbeda. Aku pun heran, tapi ya sudah lah ingin segera sampai ke kamar dan membentang di kasur.
"cletak", suara kunci yang ku buka di tengah kesunyian malam.
"nggeeeekk", suara pintu yang kubuka di antara keheningan.
"hah?", suara diriku yang kaget ketika membuka pintu di kehidupan malam.
Kasur yang sangat ingin ku temui ternyata tidak ada. Hanya sofa dan meja. Apa aku akan tidur di sofa?
Tapi di ruangan itu ada dua pintu lagi. Ku ambil kunci yang masih tergantung di pintu, dan ku buka pintu yang satu lagi.
Sayang, aku masih tidak menemukan kasur. Yang kulihat hanyalah kelap-kelip lampu kota yang berkelip bak permata, serta titik-titik cahaya yang berjalan di tengah lautan, yang kuyakini adalah kapal-kapal di lautan.
Ingin rasanya segera update di media sosial, "kasur mana kasuurr!", cuma aku berfikir, "apa banget sih bikin bikin begitu?!" haha *padahal beneran di bikin*
Aku cukup terpana sebenarnya melihat pemandangan itu. Tapi aku tidak mau berlama-lama, akhirnya kututup pintu itu dan aku ingin mencoba pintu terakhir. Disanalah akhirnya aku menemukan kasur king-size dengan ruang yang sangat luas, dilengkapi dengan televisi, dapur, dan kamar mandi.
Ternyata ada yang jauh lebih menarik daripada kasur, yaitu bath tub di kamar mandi. Akhirnya sebelum tidur, ku sempat membersihkan diri.
Ya, kamar itu ada ruang tamu, balkon, TV, dapur, bath-tube, dan king size bed. Ya, view-nya adalah kota Balikpapan. Ya, biayanya sangat terjangkau, Rp. 150.000. Ya, aku puas. Ya, aku senang. Ya, aku norak. Ya, HAHA.
View kamar, difoto dengan Asus Zenfone 4.

Aku yakin, rencanaku untuk lau-lau seharian akan berhasil dengan suasana ini.
****
Aku berniat untuk kembali tidur setelah solat subuh, dan terlaksana. Parahnya, benar-benar tidak mau beranjak kemana-mana. Padahal, aku hanya ada satu hari satu malam di kota minyak ini.
Jaraknya begitu lama, dari beranjak dari kasur, sampai ready to go. Sampai zuhur dulu, baru berangkat. Lau lau sekali.
Tapi itu momen pas untuk langsung makan siang. Kebetulan, karena letak penginapannya dekat dari rumah warga, jadi terdapat banyak warung-warung di sekitar. Termasuk warung nasi padang. Huh, udah berbulan-bulan tidak makan makanan ini.
Aku pun langsung masuk dan memesan nasi padang dengan ayam bakar dan teh tawar (untuk memastikan sang alergi udang galah benar-benar sudah pulih). Makan makan makan. Lalu bayar. Rp. 35ribu. Makjleb! Warung padang pinggir jalan, dekat rumah warga, Rp. 35ribu, dengan makanan tersebut di Jakarta mungkin bisa 11 Ribu saja (bareh solok di Ciputat, the best one!). KZL
OOT, Menu Ayam Bakar di Rumah Makan Padang Bareh Solok, difoto menggunakan Asus Zenfone 4.

Sebenarnya aku sudah di wanti-wanti sih tentang ke-krazian Balikpapan, tapi hanya tidak menyangka akan se-jleb ini.
****

Transportasi umum di Balikpapan, sama seperti kota-kota lain. Angkot. Cuma, orang-orang menyebut sang angkot dengan taksi. Kita bisa pesan si taksi untuk masuk gang-gang, selama itu masih di dalam jalurnya. Jauh dekat, 5000. Makjleb juga. Haha.
Tapi ya. Kalau tidak mahal begitu, nggak akan di julukin kota mahal si Balikpapan ini. *yaialah*
Tidak ada yang spesial di hari ke dua ini. Hari ini cuma dihabiskan di mall, dan khilaf. Ngerti kan maksud khilaf?

Selamat Berkelana, Semoga Kita Bersua! 


Andri (Zainal Kari)

----------------
Cerita ini masuk kedalam kategori: 16 Hari Luar Biasa!

0 komentar: