Hari untuk Jalan, Literally!

5:13 PM Andri Zainal Kari 0 Comments


Apa yang dilihat mata pasti jauh lebih indah daripada apa yang di tangkap oleh kamera, kan?
sumber: borneotourgigant.com

 Hari ini, hari pertama dari 16 hari, hanya akan dihabiskan di perjalanan saja. Dari subuh hingga tengah malam. Benar-benar di perjalanan.

Mungkin terdengar sangat tidak menarik. Padahal tidak sepenuhnya.

Hari itu benar-benar hari yang di tunggu - tunggu.
Dari kemaren sudah berangkat dari KM26 ke Muara Tuhup, tepian Sungai Barito. Melewati jalan bebatuan, kiri kanannya di penuhi semak belukar hasil hydroseeding beserta batang pisang dan getah punya masyarakat. Tidak naik Manhaul, semacam bus raksasa yang tangguh melewati jalan tak beraspal. Atau seperti container berjalan. Sama saja. Mobil biasa yang juga tangguh dijalanan itu. Kebetulan saat itu malah mobil yang bisa ditumpangi.

Jam setengah enam pagi sudah bergegas menuju jetty di tepian Sungai Barito. Disaat yang lainnya bergegas ke area kerja masing-masing.

Ah.. Akhirnya melihat "aspal" lagi, olok-olokan umum di sini.

Motoris dan asistennya sudah memberikan briefing keselamatan yang tidak seperti penyampaian pramugari dan pramugara, dan life vest pun sudah dipasang semua penumpang. Speed Boat siap di jalankan!

Perjalanan itu hanya dua jam saja. Tapi entahlah perjalanan itu sangat nikmat.
Saya duduk di tempat yang sagat pas sekali. Benar-benar pas. Duduk di belakang pengemudi kapal. Kalau bisa di gambarkan, seat kapal kecil tersebut adalah sbb:



Keuntungannya, saya menghadap ke depan, dan duduk di samping kanan, jadi bisa leluasa melihat ke kanan juga. Berbeda dengan yang lain, harus saling hadap-hadapan. haha

Karena di tepi, membuat angin pagi memaksa rambut saya untuk menari-nari. Desiran air di tepian kanan membuat suasana menjadi semakin dramatis.

Viewnya juga sangat indah sekali. Hutan lebat kalimantan. Untaian pepohonan tinggi nan lebat yang kadang ada satu dua pohon yang sedang berbunga dan membuat pandangan itu menjadi semakin penuh warna. Ditambah dengan suasana embun pagi yang berbentuk seperti awan-awan dangkal di sekitar pohon. Semakin mendramatisir suasana.

Saya pun tidak mau membiarkan momen ini berlangsung seperti ini saja. Saya juga ingin membuat suasana ini menjadi semakin lebih drama lagi. Saya ambil headset super bass, dan putar Orchestranya Eddie MS, the Sounds of Indonesia dengan suara penuh. Benar-benar hanya suara musik itu yang terdengar. Amukan suara mesin kapal cepat itu saja bahkan tak masuk sama sekali.

Saya hirup udara sedalam-dalamnya, diiringi lagu-lagu itu, pemandangan seperti yang saya ceritakan tadi, dan udara yang sangat sejuk. hhhhuummmhh... Subhanallah...



Rasa-rasanya 10 minggu lebih di lokasi kerja, terbayar dengan ini saja. haha. rasa-rasa ya. tapi tak rela.

Satu jam berlalu, matahari sudah agak naik. Posisi pun sudah mulai masuk ke pemukiman-pemukiman yang berarti hutannya tidak terlalu lebat lagi.


Walaupun kadar pemandangan alamnya berkurang, bukan berarti tidak ada yang dilihat. Aktivitas pagi hari masyarakat tepian Sungai Barito juga menarik untuk dilihat.

Kebanyakan, aktivitas pagi yang terlihat sih mandi pagi. Anak-anak, Muda-Mudi, Tua-Keladi, semuanya. Bukan melihat ini yang menarik, ini nilai tambahnya saja. Apalagi yang mudi-mudi hehe.

Yang menarik pertama adalah "lanting". Awalnya, pertama sekali melihat rumah-rumah itu, pikiran negatif saya yang justru memberikan penilaian. Kenapa sih mereka bikin rumahnya di atas sungai? padahal ada daratan persis dibelakangnya. Kalau ada buaya gimana? Nggak masuk angin? ini itu dsb?

Setelah bertanya-tanya ke penduduk sekitar, ternyata punya rumah berupa lanting, mempunyai beberapa keuntungan. Terutama dalam akses air sih. Mereka tidak perlu mengeluarkan energi lebih untuk melakukan aktifitas yang berkaitan dengan air, toh warga di daratan pun juga harus ke tepian sungai untuk dapat akses air. Tidak perlu membeli tanah untuk membuat tempat berlindung.Tidak perlu bingung mencari tempat bersandarnya sampan dan was-was sang sampan hanyut di bawa arus sungai. Berbagai keuntungan lainnya. Antara kasihan sama takjub sih. Tapi yang jelas pemda setempat nggak boleh membiarkan ini begini terus. Harus bantu masyarakat agar bisa dapat akses air di rumah mereka masing-masing.

Saya ikuti semua arahan pandangan yang menarik saat itu, bak lanting yang juga mengikuti tinggi rendahnya level sungai. Jika sungai tinggi, sang lanting pun ikut tinggi, jika sungai rendah pun iya merendah.

Aktivitas lain yang menarik dipandang ya aktivitas pagi sungai barito itu sendiri. Nelayan yang berangkat bekerja, penambang emas di tepian sungai, berpapasan dengan kapal-kapal tongkang raksasa, kapal penumpang rakyat (atau masyarakat bilangnya taksi sungai), dan sebagainya. Tapi dari semua sampan yang paling menarik adalah, sampan yang dinaiki anak-anak yang hendak berangkat sekolah. Tergerak sekali melihat semangat mereka yang harus naik sampan dulu untuk pergi ke sekolah, walaupun bagi mereka itu adalah sangat biasa. Tergerak untuk apa? nggak tau.

Oya, aktivitas sungai yang menarik lainnya adalah proses pengarakan kayu balak (logging) di sungai. Kayu-kayu tebangan itu di susun sampai menjadi sangat panjang sekali yang hampir mem-blok setengah dari lebar sungai. Lalu kayu-kayu itu di tarik dengan satu kapal penarik. Juga di bantu oleh arus untuk membawanya ke daerah tujuan. Nggak tau harus berkomentar apa, tapi semoga saja kayu-kayu itu legal dan sebelum mereka meninggalkan lahan yang mereka tebang, mereka juga sudah menanam bibit yang baru lagi. Amin.

Tak lama kemudian, lanting semakin banyak. Di belakang lanting sudah terlihat rumah-rumah, mesjid, gereja, tower, dan kapal-kapal  yang berlabuh. Yaps, sudah sampai di tujuan, kota Muara Teweh, musik di matikan, Spead Boat bersandar, dan turun.


Foto sampan warga dari atas Lanting. Rumah-rumah yang ada di kanan atas foto ini yang di sebut dengan lanting, mengapung di atas arus Sungai Barito.


Oya bukti kalau saya menikamati perjalanan ini adalah; saya tidak tidur sama sekali seperti yang lainnya dan saya tidak menjepret foto sama sekali. Foto-foto diatas diambil dari internet dan foto perjalanan sebelumnya.

*****

Travel. Kata kerja dan benda dalam bahasa inggris yang artinya perjalanan atau jalan-jalan. *kekinian dan lagi hits di Socmed*

Tapi kalau di Indonesia, travel itu juga salah satu jenis kendaraan "umum", yang saya kira cuma di Sumatera saja istilah itu ada, tapi ternyata juga di kalimantan. Atau mungkin seluruh Indonesia.

Kendaraan antar kota antar provinsi selain di pulau Jawa memang serba salah. Kalau di Jawa segala ada, kereta, tol, pesawat, pokoknya pilihan untuk perjalanan nyaman banyak lah. Tapi kalau di daerah lain, ada pengusaha Bus, tapi sepi penumpang, atau bus itu tidak di kelola dengan bagus; delay, bau, tidak nyaman, ngetem dsb jadi penyebab berkurangnya animo masyarakat. Kereta? Jangan di tanya! Pesawat? Harus transit dulu ke Jakarta. haha

Akhirnya muncul ide 'creative' dari masyarakat untuk mengorbankan mobil pribadi mereka menjadi kendaraan umum, yang kemudian itulah yang di sebut travel. Mobil plat hitam namum berfungsi sebagai plat kuning. Jadi ya bisa jadi mata pencaharian juga, sekalian punya mobil juga. Daripada punya bus, tapi suatu saat tidak bisa dijadikan mobil yang di pakai untuk pribadi? Tipe-tipe rational dan lifehacker-nya orang Indonesia banget lah.

Karena jumlah kursi yang sedikit, maka jumlah penumpang juga otomatis sedikit, dan harga juga sedikit lebih mahal. Namun kadang hal itu yang membuat penumpang merasa lebih nyaman. Ditambah lagi dengan embel-embel bisa antar jemput alamat. Jadi ya, pilihan rasional.

Entah bagaimana pemerintah melihat fenomena ini. Apa dibiarkan aja? Kalau suatu saat ada apa-apa bagaimana? Secara "beberapa" travel tersebut tidak diatur undang-undang dan terdaftar. Kecelakaan atau kriminal atau apapun? Mungkin nunggu ada kasus dulu, baru bikin regulasinya. Seperti biasa.

Lanjut ke perjalanan saya,
jadi ketika turun di Pelabuhan, kita sudah di tunggu oleh travel di parkiran. Mobilnya kijang Inova. Perjalanan yang akan di tempuh sangat tidak santai, 15 Jam perjalanan ke Balikpapan.



Berbanding terbalik dengan perjalanan 2 jam di speed boat, perjalanan itu sangat menyiksa! damn!; Selain jarak jauh dan lama, mobil tersebut tidak terurus; bau AC yang tidak bersih ditambah lagi saya kurang lincah nge-tag tempat duduk, akhirnya saya dapat di seat belakang. Akhirnya saya minta sepanjang perjalanan tidak usah menyalakan AC, tapi buka jendela saja daripada mual lalu mabuk darat? Supir sepertinya sudah tahu kalau AC nya tidak bagus.

Saya terus mencoba untuk tidur sepanjang perjalanan yang melewati tiga provinsi itu, Kalimantan Tengah, Selatan, dan Timur. Untungnya bisa. Begitu juga dengan penumpang lainnya yang tadinya ingin melihat aspal, malah tertidur ketika sudah bertemu dengan sang aspal.

Bapak-bapak supir berjuang sendiri melewati jalanan lintas provinsi nan mungil itu, jalanannya lebar namun diaspal sangat sempit. Kecil sekali. Kalau berpapasan dengan truk besar, kami harus menepi. Atau memang ketika dibikin alokasi dananya hanya untuk membuat jalan dengan aspal sempit itu? Rasanya tidak mungkin. Tapi entahlah.

Barulah saya membuat status di Blackberry Messenger:
"Only hate the road when you are missing home". Kemudian kembali tidur, dan berharap segera sampai.

Selamat Berkelana!

Andri Zainal Kari

----------------
Cerita ini masuk kedalam kategori: 16 Hari Luar Biasa!

0 komentar: