Sekuler Islander?

5:52 PM Andri Zainal Kari 0 Comments

SEBELUM BACA TULISAN INI, PASTIKAN DULU MEMBACA ANAK ARTIKEL DI POSTINGAN INI (LETAKNYA DI BAWAH).

Thank you Faruq Arjuna Hendroy for showing me this article. Very interesting. Gue coba kasih pendapat sotoy yak.

Warning: tulisan gue ini bakal panjang banget haha

Gue tau sih, resiko gue menulis tulisan ini adalah: gue di judge sekuler. Apalagi nanti ada yang bawa-bawa institusi gue "oohh... anak UIN? pantesan aja mikirnya begini" ckck. Tapi whatever you think about me, menurut gue, gue ga berfikir kalau gue memisahkan diri gue dari agama.

First of all, sesungguhnya dari dulu gue nggak ngerti sih, bagaimana seorang insan itu bisa di judge (oleh insan lainnya) sebagai insan sekuler *aih bahasanya. Sekarang di tambah lagi dengan istilah sekuler islander yang katanya lebih sekuler dari sekuler. Tambah-tambah aja deh istilahnya.

Sepemahaman cetek gue sih sekuler itu: memisahkan urusan dunia dan urusan agama, which is 'how could you apply (and judge) it into a human personally' kecuali dia declared (because he will act to be it kan?). Siapa juga sih yang mau declare'2. Kurang kerjaan banget haha

Jadi, orang-orang mulai deh nge-judge dari bagaimana seorang insan beropini dan bertindak. Tapi masalahnya, ada nggak sih landasan 'shahih' tentang 'orang-orang yang berfikiran dan sekuler?', kalau ada kasih liat dong.

Okay, mungkin kita merujuk ke Al-Qur'an dan Sunnah as our fundamental standard. Nggak mungkin sih, tapi HARUS. Namun, permasalahan mengenai rokok dan tato boleh atau nggak kan permasalahan fiqh (kontemporer pula) yang akan selalu menjadi hal yang debatable kan? maksud gue setiap mujtahid boleh berijtihad dan hasil masing-masing ijtihad bisa jadi berbeda kan? dan kita nggak bisa nge-judge kalau hasil ijtihad yang ini benar dan salah, sekuler atau bla bla yang lain kan? (ini rada sotoy sih argumennya, dengan ilmu yang cetek, boleh banget di koreksi sih).

Satu hal yang jadi concern dari gue dari artikel itu, penulis nyindir orang-orang yang berfikir bahwa kebenaran itu bersifat relatif(gue nggak ngomong hal-hal yang kaya iman, alqur'an dan hadits), cuma bagaimana dia bisa menganggap dirinya tidak merelatifkan kebenaran. Wong dia menyalahkan orang lain dan menganggap dirinya benar. Hipocrite sih menurut gue.

Sometimes, hal-hal mainstream itu dianggap sesuatu yang benar. Hal-hal yang sudah dilakukan oleh banyak orang dianggap benar, padahal bisa jadi kalau di kaji lagi itu bid'ah. ‪#‎justsaying‬

Gue sih ngelihat isu Bu Susi yang ngerokok dan bertato dipanas-panasin sih hanya untuk memancing-mempermainkan emosi masyarakat.Namanya juga politik bro, ada oposisinya, ada tim-tim kompornya.

Yang meresponnya juga hiperbola menanggapinya. Istigfarnya berlebih2an. Seolah2 bu susi itu bejat sebejat-bejatnya. Yang HARUSnya di permasalahin itu (mungkin) mengenai si Ibu susi yang ngerokok di tempat umum dan melanggar peraturannya. Ini malah menyerempet kemana-mana. Justru menurut gue ini mikir agamisnya ekstrim banget, kalau masalah minum okelah termaktub di al-qur'an kan, tapi kalau ngerokok atau tatoan? Bisa jadi itu tato nggak permanen, atau tato itu inai atau terbuat dari pacar arab. HAHA

Benar, idealnya pemimpin itu harus perfect. Urusan dunia dan akhiratnya seimbang. Nggak neko-neko. Dan lain-lainnya yang bagus-bagus lah pokoknya.

Realitanya, (1) cari manusia yang perfect itu dimana zaman sekarang? Okay anggap mereka ada diantara kita, apakah mereka muncul di permukaan? Ada yang ikutan politik ga? Kalau ada, pasti kedetect kok. Oh ada beberapa partai yang orangnya suci semua. Tapi mereka ngabdinya ke masyarakat "Indonesia" ga? Trus udah bikin action yang membawa manfaat buat "Indonesia" nggak? Kalau cuma buat golongan tertentu aja sih susah bro. Indonesia itu bareng-bareng, bukan golongan tertentu aja.

(2) selama rokok belum di banned (dan gue harap segera di banned), ya merokok sah-sah aja. Mau laki-laki atau pun perempuan. Lo risih lihat cewe ngerokok? itu permasalahan perspektif aja yang akan sangat panjang kalau di debatkan. Pejabat publik yang panutan masyarakat masa nggak boleh ngerokok, sementara (mungkin) bokap atau nyokap kalian yang jadi panutan keluarga boleh ngerokok? atau dosen/guru kalianngerokok? Trus kenapa bu susi langsung dianggap bejat? sosok-sosok yang gue 'mensien' tadi bejat juga dong bro?

Oke, ada semacam aturan 'tak tertulis' mengenai etika. Benar sih semuanya nggak harus muluk-muluk tertulis. Masalahnya, asumsi-persepsi-dan lala lala nya itu sama nggak di semua kepala? Jadi hemat gue ya hanya buang-buang energi aja mendebatkan-memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Silahkan itu berijtihad masing-masing aja. Kalau menurut kalian buruk -> tinggalkan, kalau menurut kalian baik ya silahkan lakukan. Konsekuensi tanggung masing-masing.

Oh, anda pendakwah yang berkewajiban untuk memurnikan ajaran islam? Sok atuh, mari silahkan. Justru sangat di nanti-nantikan kehadirannya. Kalau anda hanya berdakwah di mesjid dan sekolah agama, anda dong yang sekuler. Misah-misahin diri dari dunia. (Bukan nge-judge, hanya pakai logika sederhana aja).

NAMUN *CTRL+U, CTRL+B, CAPS LOCK*, jangan sampai 'memaksakan' pemikiran kalian sama dengan pemikiran orang lain yang which is ini berlaku buat siapa pun. Mau agamis, sekuler, sosialis, atau apapun lah label-label yang ada. Ini 'memaksa' ya konteksnya. Kalau mengajarkan ya lain hal. Kalau berdakwah dan ada dalil sahih nya justru lebih bagus untuk mengingatkan. Tapi kalau berdakwah tapi membelok-belokkan logika, mending nggak usah aja. Bisa menuai konflik.

Lanjut ke Bu Susi, jadi ada salah satu responden yang lebih lebay lagi. Selain menganggap pembela bu susi sekuler atau sekuler islander, ia juga mengganggap pembela Bu Susi itu menunjukkan kebencian kepada JILBAB! ARE YOU KIDDING ME? Kenapa kesimpulannya stupid banget sih? Logikanya kemana?

Sini gue jelasin. Maksud orang-orang membandingkan Bu Susi dengan Bu Atut itu adalah karena ada beberapa orang yang berasumsi bahwa seorang pemimpin yang baik (apalagi cewek) harus berpenampilan syar'i, nggak ngerokok, dan lala lala yang baiknya. Seolah-olah tipe-tipe pemimpin yang seperti itu adalah pemimpin yang baik. Nah, di berilah contoh bahwa nggak selamanya pemimpin yang 'terlihat' berpenampilan baik itu kerjanya bener, contohnya Atut yang saat ini terjerat kasus.

Pesan utamanya: jangan lihat penampilan. Simpel. Jangan lihat luarnya. Ibarat buah manggis, kalau lo liat luarnya nggak bakal lo makan tu buah, karena luarannya hitam dekil, sedangkan dalemannya putih suci. (tapi sekarang sejak ada MASTIN, Gooooood, kulit manggis jadi barang ekonomis HAHA, jadi kayanya peribahasa ataupun petuah itu harus di update deh HAHA).

Ya kalau lo merasa itu membawa unsur-unsur kebencian kepada Jilbab, ya terserah sih. Tapi kalau menurut gue logikanya nggak nyambung aja dan elu over sensitif sih. Tapi terserah sih, Wallahu'alam aja.

Ya mengenai sample yang lain boleh-boleh aja. Boleh banget malah. Silahkan bandingin Bu Susi dengan koruptor lain yang nggak pake jilbab, angelina sondakh misalnya. Bisa sih, tapi perbandingan 'luarnya' kan paralel yang bisa jadi nggak ada poinnya. Jadi ya, sampel yang pas untuk jadi 'anti-tesis' judgement kalian ya Atut (lagian siapa suruh nge-judge dari penampilan, jadi ibarat kata ya kalian juga yang menyulut api).

Ini hanya pemikiran cetek gue ya. Maklum masih belajar ilmu agama. Belum suci kaya mas @malakmalakmal. Wallahua'lam.

Meira Ernawati with Supriyadi

29 October at 14:57 · Edited · 

Saya ingin bahas soal fenomena sekuler inlander. Ini fenomena yang sudah cukup lama saya perhatikan. Sekuler inlander itu ya sifatnya orang-orang sekuler bermental inlander. Kampungan, gitu deh kurang lebihnya. Walaupun saya anti sekali dengan sekularisme, tapi banyak orang sekuler yang msh bisa dihormati. Kalau sekuler inlander sih nggak.

Yang namanya sekuler inlander itu ya pelakunya adalah orang-orang bermental inlander yang jadi sekuler karena ikut-ikutan. Indonesia, karena pernah dijajah, juga banyak diisi oleh kaum sekuler inlander ini. 

OK, supaya lebih jelas, kita langsung masuk ke contoh kasus ya. Dalam hal ini saya ingin jadikan dialektika seputar Bu Menteri Susi dan rokoknya. Dialektikanya, bukan rokoknya! Dari perspektif orang-orang beriman, kasus ini sebenarnya telah menunjukkan kegamangan sekularisme. Bagaimana sekularisme menyikapi kebiasan merokok? Dalam hal ini, biasanya ya dianggap sebagai pilihan masing-masing. Bagi orang-orang sekuler, kita tidak perlu mengurusi kebiasaan orang lain. Jangankan merokok, mabuk dan zina pun dibiarkan. Tapi pada akhirnya, sekularisme mentok juga. Tidak segala hal bisa dianggap urusan privat seseorang.

Di negara-negara sekuler, sudah biasa orang mengkritik pejabat publik yang memperlihatkan kebiasaan buruk. Obama dikritik karena merokok, padahal nggak pernah terlihat merokok di depan publik (http://theweek.com/article/index/200270/why-is-obama-still-smoking). Demikian pula minum bir, misalnya. Orang Barat biasa minum bir, tapi pejabat publik pas disorot kamera ya harus jaim. Gonta-ganti pacar, itu biasa bagi orang Barat. Tapi kalau Perdana Menteri, ya nggak enak dilihatnya (http://www.theguardian.com/world/2011/oct/14/berlusconi-scandals-timeline). Artinya, sekularisme gagal mempertahankan prinsip ‘individualismenya’ sendiri.

Pada kenyataannya, manusia itu makhluk sosial. Tidak hidup masing-masing saja. Ketika Anda merokok, bisa dipastikan yang menghisap asapnya bukan Anda sendiri. Dan ketika orang merokok, bisa dipastikan pula yang menyaksikan bukan dirinya sendiri. Bagaimana jika pejabat publik yang merokok? Siapa yang menyaksikan? Berapa yang tergoda untuk mengikuti? 

Pada akhirnya, masyarakat sekuler di Barat pun mengakui kenyataan bahwa mereka harus melindungi anak-anak mereka sendiri. Mereka tidak mau pejabat publik melakukan hal-hal yang tidak baik, agar anak-anak mereka tidak meniru. Walaupun di sini orang-orang sekuler mengkhianati ideologinya sendiri, tapi di sisi lain bisa kita puji. Masih ada akal sehatnya. 

Nah kalau sekuler inlander ini lain daripada yang lain, bahkan lain dari yang sekuler beneran sekalipun. orang-orang sekuler inlander ini biasanya ‘lebih sekuler’ daripada yang beneran sekuler. Di satu sisi, mereka masih beribadah, masih beragama, tapi cara berpikirnya bisa jadi nyerempet-nyerempet ateis. Demi mempertahankan ‘hak-hak individu’, apa yang tidak selayaknya dibela pun dibela juga. Mungkin supaya kelihatan sekuler 24 karat? Ya bisa saja. Namanya juga sekuler inlander. Kerjanya cari muka pada ‘majikan’. 

Di Indonesia, rokok sudah jadi masalah besar. Jangankan anak sekolah, balita saja ada yang merokok. Hebat kan? Saking fanatiknya pada rokok, teman saya cerita bahwa dia pernah ketemu orang yang mau merokok di dlm pesawat. Katanya, industri rokok menghidupi banyak orang. OK. Tapi rokok membunuh berapa orang? Katanya, industri rokok mendatangkan pemasukan. OK. Lalu kerugian akibat merokok berapa? Sudah dihitung? Di Barat, aturan2 ketat seputar rokok sudah diterapkan. Merokok itu dibikin susah. Malah ada negara yang berwacana agar negaranya dijadikan benar-benar bebas rokok. Lagi-lagi, sekularisme gagal. Diam-diam banyak juga orang sekuler yang percaya pada ‘kebenaran absolut’. Bahwa rokok itu lebih banyak merugikan drpd menguntungkannya, itu sudah pasti benar. Tak terbantahkan.

Tapi buat kaum sekuler inlander, pokoknya dibela terus. karena kebenaran harus relatif? :)Generasi muda hancur karena rokok, tetap saja rokok dibela terus. Atas nama kebebasan. Sudah miskin, kecanduan merokok pula. Makin susah hidupnya. Tapi atas nama kebebasan, rokok harus dibela. Kalau bener pake logika, rasionalitas dan fakta2 ilmiah, harusnya semua orang sekuler itu anti rokok. Kalau mengaku menjunjung tinggi hak-hak asasi masyarakat, harusnya semua orang sekuler itu anti rokok.Tapi ya begitulah dunia sekuler. Ambigu. Mendesak rokok, tapi tidak bisa juga melarangnya.Minuman keras juga sama. Sudah jelas merusak, tapi masih dibela. Dibenci, tapi nggak ada yang berani melarang. Zina juga sama. Jelas-jelas biadab, tapi demi hawa nafsu ya dibela juga. Generasi hancur, apa boleh buat. Setidaknya, kaum sekuler yang masih berakal msh berusaha mencegah ekses negatif dari hal-hal tersebut. Tapi sekuler inlander nggak.

Bicara soal sekuler inlander ini sy selalu ingat pada Sumanto Al Qurtuby. Baca tulisannya di elsaonline.com/?p=3267. Dari tulisannya, jelaslah bahwa Sumanto lebih dari sekadar. Lihat di paragraf ketiga dari bawah. Benar, bagi orang sekuler, pelacuran itu sah-sah saja. Tapi siapa yang memperbandingkan pelacur dgn dosen? Bahkan orang sekuler yang menganggap zina itu boleh pun tak sudi membuat perbandingan demikian. Di negeri-negeri sekuler, meski pelacuran itu legal, tetap saja profesi dosen jauh lebih terhormat. Inilah ‘kebenaran absolut’ yang diam-diam diyakini di negeri-negeri sekuler Barat. Tapi sekuler inlander lebih lebay gayanya. Demi membela apa yang hendak mereka bela, digunakanlah logika-logika menyesatkan.

Kita masuk lagi ke studi kasus. Perhatikan perkembangan wacananya, bukan hanya kasusnya. Muncullah gambar seperti ini (pic.twitter.com/myk2yxLKDg). Jelas, siapa pun yang membuat gambar seperti ini bukan hanya melakukan pembelaan, tapi juga menunjukkan kebencian. Kebencian pada apa? Ya, pada jilbab. Karena sejak awal kasus Bu Susi ini tidak membicarakan jilbab. Tidak ada yang mengkritisi Bu Susi karena tidak berjilbab. Memang di Indonesia belum semua berjilbab, sudah pada maklum. Yang dikritisi adalah merokok di depan publik. Tapi isunya dibelokkan sedemikian rupa. Kemudian, digunakanlah imej Muslimah berjilbab yang kurang baik, yaitu Ratu Atut yang sedang terjerat kasus. Ini logika sesat. Membela pencuri ayam dengan mengatakan bahwa di kampung sebelah ada yang mencuri kambing.

Kemudian diambil ‘sepotong imej’ untuk merusak citra. Dalam hal ini, yang dirusak adalah citra muslimah berjilbab. Jilbab dihadapkan dengan rokok dan tato. Hanya dengan satu sampel. Itu kata kuncinya: SAMPEL! Sama saja dgn yang bilang “lebih baik nggak berjilbab tapi menjaga kehormatan drpd berjilbab tapi diam-diam bejat.”
Kombinasi 1: merokok, bertato, pekerja keras. 
Kombinasi 2: berjilbab, tidak merokok, tidak bertato, tapi diduga korupsi.
Padahal masih banyak kombinasi yang lain. Apa koruptor yang merokok nggak ada? Apakah koruptor perempuan itu lebih banyak yang berjilbab atau tidak? Statistik nggak bisa cuma gunakan 1 sampel. Kalau bisa pakai 1 sampel, boleh dong saya bikin perbandingan begini? Ini contoh aja (pic.twitter.com/5wrpXNqdjB)

Isu lainnya yang hot: tentang pejabat publik yang kata-katanya kasar. Muncul jargon: “lebih baik memaki tapi tidak korupsi!” Inilah sekuler inlander. Akalnya rusak. Padahal majikan mereka di Barat nggak begitu mikirnya. Biarpun sekuler, nggak ada yang mengabaikan sopan santun. Pernah bayangin Obama bilang “A**hole!” (maaf ini cuma contoh) nggak? Kalo terjadi, pasti rakyat AS ngamuk. Padahal warga AS banyak yang sudah biasa mengucapkan kata itu. tapi tetap saja tidak layak bagi pemimpin. Coba lihat kenyataan di lapangan. orang Indonesia sudah tidak lagi terbiasa bicara santun. Di Twitter, ada kelompok-kelompok yang suka caci maki, bahkan kalau sudah mentok debat ujung-ujungnya kirim gambar porno. Di sekolah-sekolah, generasi muda sudah jadi korban bullying. Kekerasan fisik & verbal dimana2. OK, korupsi itu masalah besar. Tapi kekerasan fisik & verbal juga sudah jadi masalah besar di Indonesia.Jadi, kalau ada yang bilang pejabat nggak apa-apa maki-maki asal nggak korupsi, itu artinya dia nggak peduli negeri ini rusak.

Orang-orang sekuler inlander ini berusaha begitu keras untuk jadi sekuler sehingga mereka melampaui batas sekularisme itu sendiri. Sekularisme sudah mentok, dan orang-orang sekuler menyadarinya. tapi kaum sekuler inlander nggak peduli, semuanya ditabrak! Sebelum saya tutup, saya ingin jelaskan lagi bahwa persoalan Bu Susi hanya studi kasus di kultwit ini. Memang nyatanya hukum di negeri ini blm melarang rokok. Tapi ada standar perilaku untuk pejabat publik, meski tak tertulis. Kalau kita menggunakan akal sehat, pasti menyadari aturan-aturan tak tertulis tersebut. Baik yang sekuler maupun yang tidak. Saya tidak mengatakan bahwa Bu Susi harus mundur karena alasan tersebut. Bongkar-pasang kabinet belum tentu hal yang bagus. Saya juga tidak mempertanyakan kecerdasan Bu Susi. orang yang bisa mengelola maskapai nggak mungkin bodoh, kan? Saya hanya ingin katakan bahwa banyak ortu yang berharap anak-anak mereka bisa memiliki panutan yang baik. Itu saja. Tapi kalau sudah sekuler inlander, ya tidak ada lagi akal sehat. Nggak bisa diajak bicara baik-baik lagi.Apa pun dilakukan meski dgn pemikiran setengah matang; atau jangan-jangan nggak pake mikir dulu? Semoga kita terhindar dari kejahilan yang demikian. Aamiin...
-----------------------------------------------------------------------------
Disadur (dengan beberapa suntingan) dari kicau Kang Akmal Sjafril (@malakmalakmal)
Sumber:http://chirpstory.com/li/236599?page=1

0 komentar: