Proses Penyaringan Proposal Skripsi di HI UIN Jakarta

7:04 PM Andri Zainal Kari 0 Comments

Kali ini saya akan melanjutkan tulisan saya tentang skripsi di HI UIN Jakarta. Sebelumnya saya sudah tulis bagaimana caranya biar bisa nulis skripsi di kampus dan jurusan ini, bisa di cek di link ini: http://www.andrizainal.com/2014/04/proses-menuju-bimbingan-skripsi-di-hi.html


Mengerjakan proposal skripsi (metodologi) hingga sang proposal di terima dan fix menjadi pembahasan yang akan kita teliti, menurut saya melewati proses penyaringan yang sangat banyak sekali. Ya, kurang lebih 5 kali. Kalau di bikin skemanya, kurang lebih akan menjadi seperti ini:


Cikal bakal proposal skripsi kita adalah MPHI (Semester 6), karena selain mempelajari metodologi penelitian, tugas akhir mata kuliah ini biasanya berbentuk latar belakang penelitian bahkan sudah hampir mendekati proposal skripsi. Tinggal menambahkan beberapa sub bab saja.

Lalu kita masuk kelas seminar, yang mempelajari pembuatan proposal skripsi, dengan dosen yang memiliki latar belakang berbeda dengan dosen MPHI ketika di semester 6 lalu. Hasil MPHI yang sudah kita miliki dulu tentunya masih bisa di gunakan (kalau memang masih pengen ngebahas itu) di mata kuliah seminar ini. Tapi, belum tentu yang ditulis pada MPHI itu diterima di mata kuliah seminar. Misalnya di kelas MPHI, rencana penelitian saya dapat nilai yang sangat bagus, sementara ketika di mata kuliah seminar, saya masih menggunakan pembahasan yang sama namun mendapatkan nilai yang sangat jelek. Ckck.

Setelah mata kuliah seminar selesai, maka proposal skripsi pun jadi. Udah bisa di ajuin sidang DPS dong? Sayang nya belum. Harus mendapatkan persetujuan dulu dari dosen pembimbing akademik. Beberapa dosen pembimbing akademik sudah berpatokan dengan nilai seminar, kalau nilai seminarnya bagus dan sang mahasiswa sudah siap untuk maju, biasanya sang dosen langsung memberikan persetujuan. Atau terkadang mahasiswa minta konsultasi dahulu ke dosen pembimbing akademiknya sebelum sang dosen memberikan persetujuan.

Pengalaman beberapa (seingat saya 4 orang) rekan-rekan (beberapa teman seangkatan, beberapa senior) saya, yang mendapatkan nilai bagus di mata kuliah seminar dan langsung mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing akademik dan sudah siap untuk sidang DPS, tidak lulus ketika sidang DPS.

Kalau saya, bukan menggunakan proposal yang jadi dari mata kuliah seminar, tapi dari mata kuliah MPHI dan hasil konsultasi dengan dosen pembimbing akademik saya. Bukan karena pengalaman keempat rekan saya tersebut (waktu itu mereka sidang, proposal saya sudah masuk ke jurusan), tapi memang saya lebih yakin dengan apa yang saya kerjakan di mata kuliah MPHI.

Lanjut.. Setelah dapat persetujuan dosen pembimbing akademik, barulah kita bisa mengajukan sidang DPS. Penguji sidang DPS adalah dosen yang berbeda dengan dosen MPHI, Seminar, dan dosen pembimbing akademik saya (Kamu beruntung kalau dosen penguji DPSnya adalah salah satu dari dosen yang di mention tadi). Jadi, kalau kamu lulus sidang DPS, bersiaplah untuk kembali merevisi sang proposal skripsi yang sesuai dengan standart yang dimiliki oleh sang dosen penguji DPS, agar kamu bisa mendapatkan ACC dan mengajukan dosen pembimbing dan mulai mengerjakan skripsi.

Udah dapat ACC? Berarti proposalnya sudah rampung kan? Udah bisa di sarikan menjadi BAB I? Sayangnya belum bisa. Soalnya proposal kamu akan di lihat dulu sama dosen pembimbing skripsimu, dosen yang berbeda dengan dosen penguji DPS mu. Ya walaupun sang dosen itu dosen MPHI, Seminar, Pembimbing Akademik, tetap saja sang proposal tadi akan di tinjau lagi oleh beliau dan meminta kita untuk melakukan beberapa perubahan. Nah, setelah dilakukan beberapa perubahan itulah, baru kita bisa mulai mengerjakan skripsi.

Bagus sih memang, 5x proses ‘penyaringan’ seharusnya menjadikan proposal skripsi yang sangat apik dan bagus-bagus banget. Standar HI UIN Jakarta aja udah begini buat bikin proposal skripsi doang, gimana di kampus top-top lain ya?

Semoga semua mahasiswa kuat ya, mengerjakan proposal proposal proposal terus. Nggak bosan-bosan. Karena proposal itu bahkan baru a piece dari sang skripsi. Mahasiswanya nanti juga harus melawan tantangan menulis skripsinya itu sendiri. Tantangannya juga lumayan, apalagi dengan lingkungan seperti di HI UIN Jakarta. Tulisan berikutnya tentang tantangan dan tips menulis skripsi di UIN Jakarta deh.  Tunggu yak.

Lagi, mau coba kasih saran buat kampus, kali aja mampir di blog ini:
1.       Beneran harus 5x banget? (eh ini pertanyaan deh)

Tips buat yang sedang berjuang di area ini:
1.       Sering-sering konsul ke dosen pembimbing akademik atau dosen-dosen yang mempunyai concern yang sama dengan kita, sebelum ngajuin DPS.
2.       Kalau bisa, dosen pembimbing skripsinya adalah dosen yang sama dengan dosen penguji DPS. Jadi proses ‘penyaringan’ itu tadi bisa di minimalisir jadi 4 kali.
3.       Lebih baik lagi, kalau dosen Pembimbing Akademik, Penguji DPS, dan Pembimbing Skripsi adalah dosen yang sama. Proses ‘penyaringan’ tadi malah bisa di pres menjadi 3 kali saja. Lebih efisien waktu dan tenanganya.


That’s all proses penyaringan proposal penelitian di HI UIN Jakarta. Saya nggak ngajarin ya, cuma sharing pengalaman aja. Kalau ada yang ditanyakan atau di tambahkan, silahkan di komentari. Terimakasih.

0 komentar: