Tak Melihat Kelam

3:45 PM Andri Zainal Kari 0 Comments


Ya, itu lah yang saya rasakan saat menghandle suatu divisi di acara berbasis internasional di bulan Juli 2011. Acaranya adalah Jakarta Model United Nations, atau mungkin lebih dikenal dengan simulasi sidang PBB. Acara yang sebenarnya saya ingin berpartisipasi sebagai peserta, namun terpaksa harus menjadi bagian dari jajaran kepanitiaan karena saya adalah anggota dari penyelenggara. Tapi tak masalah, karena acara ini memberikan saya sejuta pengalaman dan pelajaran.
Pelajaran pertama yang saya dapati adalah, jangan menunda-nunda pekerjaan sampai ke menit atau bahkan detik terakhir. Ya, akibat ulah dan penyakit saya sebagai seorang deadliner itu, mengakibatkan beberapa acara terganggu. Walaupun, itu tidak seutuhnya kekhilafan dan kelalaian saya tapi tetap saja itu menjadi pukulan bagi saya. Tapi untung saja, jajaran kepanitian JMUN saat itu sangat kreatif dan bersifat baik hati, jadinya mereka bisa mensiasatinya dengan melakukan games atau entah apalah, yang mengakibatkan mereka bisa menunda waktunya. Mereka pun memaklumi hal tersebut bahkan mereka mengungkapkan rasa terimakasih atas kerja keras saya saat itu. Walaupun menurut saya, saya sudah mengacaukan schedule.
Pelajaran lain yang saya dapatkan adalah, begitu susahnya bekerja! Andaikan anda tahu bagaimana sengsaranya saya saat menghandle acara itu. Saya bahkan tidak melihat kelam selama 2 hari, lupa makan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Itu semua karena kepanikan saya karena deadline semakin mengejar. Keringat, lapar, dan semua rasa bercampur baur saat itu.
Tapi disaat semua orang melihat dan puas dengan hasilkerja keras yang telah saya lakukan. Hati ini pun menjadi sangat senang sekali. Bagaimana tidak, semua itu saya lakukan sendiri! Tidak lupa semangat dari Under Secretary on Organization, mbak Pra Ulpa yang selalu menemani saya setiap saat (walaupun by phone) yang membuat pekerjaan saya menjadi kelar.
Andai saja, judul postingan saya saat ini "Tak Melihat Terang", pasti akan beda lagi ceritanya. Ya, anggap sajalah deadline itu adalah kematian, dan saya tidak akan tahu bagaimana saya 'berkelebuk' untuk menyelesaikan itu semua. Atau mungkin tak akan terselesaikan. Brr… kok ceritanya jadi horror..
Pastinya pelajaran lain yang saya dapatkan adalah komitmen. Jikalau misalnya saya tidak sanggup untuk mengerjakan itu semua (sebenarnya emang rasa-rasanya tak akan sanggup), bisa saja saya lari dan miss contact dari mereka semua. Tapi saya tak sebejat itu haha. Saya lebih rela malu karena saya tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu dari pada saya kabur dan meninggalkan kerjaan saya begitu saja. Sama halnya dengan lempar batu sembunyi tangan. Kita sudah berbuat, tapi tidak mau bertanggung jawab.
"kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyatihi"

0 komentar: