Pelaruga, Si Sungai Abadi

Pelaruga. Hmm.. Akhirnya saya menuliskan tentang tempat yang pasti akan saya kunjungi ketika saya melancong ke Sumatera Utara lagi. Serius. Bagi saya sehari disana tidak akan pernah cukup. Saya ingin berlama-lama disana.

Saya pergi ke sungai abadi ini sendirian, karena semua rekan saya bekerja. Pergi sendirian adalah keputusan terbaik yang saya ambil saat itu. Kalau tidak, saya tidak akan pernah mencelupkan badan saya ke tempat itu.

Jadi Pelaruga itu adalah tempat wisata berupa sungai. Ia juga sering  disebut dengan sungai abadi. Ekspektasi pertama kalau ingat sungai ya luas, air coklat karena sendimentasi, dalam, dan sebagainya. Namun sebenarnya si Pelaruga lebih cocok dengan kata kali sih. Karena dia ga luas. Airnya juga jernih. Dangkal juga. Dan sebagainya.

Posisinya nggak jauh dari kota Binjai. Saya naik motor dari kota Medan hanya memakan waktu sekitar satu setengah sampai dua jam untuk bisa sampai ke pos atau parkiran kendaraan.

Gambar 1. Tugu Kota Binjai (Abaikan Foto Haji Saleh Bangun)

Di tempat wisata Pelaruga juga harus pakai ranger. Biayanya juga 30 ribu per-orang yang di guidenya. Jadi harganya bukan harga per-rombongan. Berapa pun orangnya tetap di guide. Walaupun seorang diri seperti saya saat itu. Biaya ini sudah include dengan ongkos parkir, sewa perlengkapan keselamatan, dan jasa membawa barang bawaan kita selama di kali biar tidak basah. Ya worth it lah.

Biasa, untuk melihat tempat yang indah layaknya  Kawah Putih Tinggi Raja, saya harus trekking dulu sekitar 15-20 menit. Jalananya naik turun, tapi sudah setapak jadi jalannya bisa santai. Meski ngos-ngosan. Tanda kalau kamu sudah sampai ke Pelaruga, adalah waktu kamu mendengar suara derusan air. Yaiyalah. Haha.

Gambar 2. Spot Pertama, Hampir Dekat ke Hulu. Itu Lumayan Dalam Loh, Karena Jernih Malah Terlihat Dangkal

Gambar 3. Tuh kan Lumayan Dalam...


Jadi saya di bawa ke bagian yang hampir sampai ke Hulu sungai. Makanya airnya sangat bening dan jernih sekali. Konon airnya berasal dari sumber mata air. Ketika saya minum juga segar banget air nya. Malah jadi ketagihan minum jadinya hehe.

Setelah tampak puas bermain di spot ini, abang ranger pun ngajak saya menuju ke Air Terjun Teroh Teroh. Katanya sih ada sekitar satu kilometer dari tempat ini. Bagian ini lah yang menurut saya yang paling asik, karena sejauh satu kilometer itu kita akan BODY RAFTING!

Ya, badan besar saya ini dihanyut-hanyut manja-kan dengan aliran air Pelaruga. Beberapa tempat juga ada yang kita harus loncat. That was the best experience I have. Rasanya kaya lagi hanyut di sungai-sungaian waterboom di Bali. Tapi ini hutan beneran, dan airnya itu jernih banget. Di beberapa tempat, ada air yang keluar dari akar pohon dan dinding batu. Benar-benar pemandangan luar biasa banget.

Selama body rafting, barang bawaan kita dijaga oleh sang ranger. Abang-abang ranger udah nyiapin plastik biar nggak basah. Kamera dan HP saya waktu itu disimpan, makanya nggak ada dokumentasinya. Tapi positifnya, saya jadi benar-benar menikmati saat itu. Huhu

Gambar 4. Ini Waktu di Tengah Jalan Mau ke Teroh Teroh

Akhirnya sampai di Air Terjun Teroh Teroh. Air terjun yang airnya juga berasal dari hulu tadi. Tetap jernih dan "abadi" Tingginya sekitar tiga meter. Dan ditengah ada pohon tumbang yang bisa di naiki. Yakin deh, kalau sudah disini bakalan betah berlama-lama. Saya saja waktu di ajak pulang sama sang ranger malah nggak mau. Haha

 

Gambar 5. Air Terjun Teroh Teroh

 


Sekian dulu cerita di Pelaruga. Sedikit lagi jurnal saya ketika di Sumatera Utara akan rampung. Semoga bisa selesai ya.
Selamat Berkelana, Semoga Kita Bersua.

Andri Zainal Kari.

 


Kawah Putih Tinggi Raja

Setelah dua hari dua malam menghabiskan waktu dengan berkelana ke Danau Toba dan sekitar, maka wajar kalau keesokan harinya badan ini menjadi remuk dan capek. Bagaimana tidak, dari dua hari itu, sebagiannya dihabiskan dengan berada di atas perjalanan. Haha.

Namun faktanya, badan saya tidak remuk dan tidak capai. Ketika bangun tidur badan segar dan siap untuk lanjut berkelana. Mungkin, karena perjalanan toba kemarin di tutup dengan mandi air panas di Berastagi kali ya? Makanya jadi segar gini.

Oke, hari ini rencananya saya akan eksplore Kota Medan sendirian. Karena semua kenalan saya yang ada di kota terbesar di Sumatera ini harus bekerja. Nggak papa, solo traveling terus menjadi hal yang menyenangkan kok buat saya.

Tapi ternyata Eca pulang lebih awal dan saya di ajak jalan-jalan bareng keluarganya. Asyik!

Eca pun mulai sibuk berselacar di dunia maya untuk mencari destinasi apa yang akan kami kunjungi, dan ia pun memilih untuk mengunjungi Tinggi Raja. Tinggi Raja adalah kawah putih yang luas di daerah Deli Serdang. Alasan Eca memilih itu karena kawah ini "katanya" lebih indah dibanding kawah putih ciwideui di Bandung.

Perjalanan menuju Tinggi Raja memakan waktu kurang lebih empat jam dari Kota Medan dengan jalanan yang super parah jeleknya. Sekitar satu jam setengah, kami harus teroyak-oyak dan terombang-ambing untuk menuju tempat itu. Padahal, kami melewati banyak desa, perumahan, bahkan satu pos barak militer, apalagi mau menuju tempat wisata, kenapa jalanannya bisa jelek banget gini?

Kami kemarin juga ragu, apakah benar akan ada kawah putih ditempat yang kami tuju. Karena kawasan seperti itu biasanya identik dengan daerah pegunungan kan? Sedangkan kami berada dikawasan panas yang penuh dengan perkebunan sawit dan karet. Sempat nanya orang dijalan, malah di suruh pulang aja karena katanya masih jauh dari sana. Sedih. Namun kami nggak dengerin dan terus lanjut.

Jeng jeng, setelah kesel melewati jalanan yang mengoyak-oyak kami dan pusing mikirin pulang yang harus lewatin jalan itu lagi, kami pun tiba di parkiran yang berbentuk tanah lapang. Masih ada 1 mobil beberapa ranger disana. Kami datangnya emang kesorean sih. 

Ternyata wiliayah Tinggi Raja itu adalah Cagar Alam, bukan tempat wisata. Pantesan aja jalanannya parah banget.

Oya,biaya yang wajib dikeluarkan di Tinggi Raja adalah: parkir mobil sebanyak 30 ribu permobil dan biaya 30 Ribu per-orang untuk guidenya. Gila mahal banget. Jadi kalau sepuluh orang berarti bayar tiga ratus ribu buat si rangernya. ckck macem pemerasan ya? Karena ga ada opsi lain. Nawar pun nggak bisa. Mau pulang juga gimana, udah berjuang banget sampe ketitik itu. Yasudahlah.

Nah, untuk menuju kawah, kita harus trekking dikit dari parkiran.Ya lima menit lah, dan siap-siaplah mulut menganga, mata ngga mau ngedip, dan kamera ngga berhenti menjepret karena keindahan Tinggi Raja. Berikut foto-fotonya:

Gambar 1. Alur Trekking Menuju Tinggi Raja

Gambar 2. Pemandangan Kawah saat Pertama Kali Sampai

Gambar 3. Kawah Tinggi Raja

Gambar 4. Jembatan Sekaligus Pemisah Kawah dengan Kolam Air Panas

Gambar 5. Kolam Air Panas

Gambar 6. Kawah dari Bagian Atas

Info dari si ranger, sumber air panasnya terus berpindah dari waktu ke waktu. Jadi bisa jadi nanti danau air kawah biru itu malah menjadi daratan. Begitu. Misalnya, Gambar 1 dulunya adalah kawah. Gambar 2 dulunya adalah kolam air panas. Sekarang malah daratan. Terus kenapa namanya Tinggi Raja, karena ini adalah tempat yang mulia bagi raja-raja terdahulu. Agak angker makanya. Katanya.

Kami benar-benar tidak bisa berlama-lama disana karena kami datangnya kesorean bangt. Kami disana hanya satu setengah sampai dua jam. Lalu kembali pusing mikirin jalanan jelek yang harus dilewatin tadi.

Nggak tau untung atau nggak, si ranger ngasih tau kami jalan yang lebih dekat ke pasar hitam (atau aspal), dan kami pun ikuti saran sang ranger.

Awalnya kami senang, karena katanya jalan ini jauh lebih dekat. Berarti kami tidak akan terlalu lama terombang ambing melalui jalan yang jelek. Kesenangan bertambah, karna ketemu kawah lain di tepi jalan mau pulang. 

Gambar 7. Ketemu Kawah lain di Tepi Jalan


Namun setelah kawah itu kami semua malah beristighfar sebanyak-banyaknya. Jeleknya jalan, justru jauh lebih parah.. 

Jadi jalannya kebanyakn tanah merah, namun di samping kanan atau kiri jurang. Jalan itu pun terlihat sangat rentan akan longsor. Lubangnya lebih dalam dan besar. Kalau jalanan sebelumnya berlubang, setidaknya masih batu atau kerikil. Sedangkan ini tanah, rentan.

Ada jalanan yang sudah longsor, dan menyisakan sedikit space saja buat dilewati. Serem kali. Sedangkan posisi di tengah hutan, gelap, sepi, dan tidak ada sinyal. Andai kata kami nyungsep ke jurang dan meninggal, hanya tuhan yang tau keberadaan kami. Saking sunyinya.

Ada juga momen, mobil terperangkap dilumpur, sampai kami harus kotor-kotoran dorongin mobil dikegelapan. Seremkan? Jadi kalau mau kesini mending naik mobil off-road atau naik motor deh. Atau nunggu jalannya bagus. Dan yang terpenting, berangkat dari subuh biar puas.

Tapi, saya sangat beruntung dan senang karena sudah pernah pergi ke Tinggi Raja. Karena faktanya, belum banyak orang yang pernah kesini. Termasuk orang-orang Sumatera Utara nya sendiri. Buat Eca dan keluarga saja misalnya, ini adalah pengalaman mereka pertama ke sini. 

Sekian Cerita tentang Tinggi Raja,
Selamat Berkelana, Semoga Kita Bersua

Andri Zainal Kari


Berastagi, Kota Sejuk di Sebelah Medan

Entah memang kebetulan atau bagaimana, beberapa kota besar di Indonesia mempunyai kota kecil sejuk yang menjadi sasaran destinasi wisata bagi masyarakat urbannya. Misalnya seperti ibukota Jakarta punya Bogor atau Puncak, Surabaya punya Malang, begitu juga Medan yang mempunyai Berastagi.

Tapi kayanya emang ga kebetulan deh. Indonesia itu emang kaya dengan kawasan sejuk dan dingin, perbukitan dan pegunungan berjejer di Indonesia. Luar biasa! #apadeh

Cerita kesenangan pulang ke Medan kami pun bertambah, setelah melewati pesona jalan tele, kami juga melewati dan mampir dulu ke Berastagi. Bahkan lebih gilanya lagi, kami ke kaki Gunung Sinabung yang dari beberapa belas bulan yang lalu, masih erupsi sampai sekarang. Tiba-tiba ada awan panas saja, tamat sudah.

Gambar 1. Kaki Gunung Sinabung

Oya, saya lupa bilang kalau rekan perjalanan toba saya ini adalah para kimiawi di Kota Medan. Mereka pergi ke kaki gunung Sinabung bukan tanpa sebab, melainkan ingin mengambil sampel air sungai di desa dekat Sinabung untuk di teliti. Secara masyarakat sedikit-sedikit sudah kembali kerumah mereka dan menggunakan air sungai itu untuk kehidupan sehari-hari. Meskipun wilayah tersebut masih dalam ancaman erupsi Gunung Sinabung. Ga ngerti deh. Mungkin penduduk itu tidak tahu harus mengungsi kemana, atau pemerintah tidak bantu mereka lagi.

Gambar 2. Perkampungan di Kaki Gunung Sinabung

Setelah mengantungi beberapa botol sampel, kami pun bersegera menjauhi Gunung itu. Serem banget soalnya. Karena sang pasak bisa saja seketika mengamuk. Kami pun menuju pusat kota atau alun alun atau pasar kota yang sore itu sangat ramai sekali. Benar-benar seperti puncak bogor disaat akhir pekan.

Gambar 3. Main Kuda-Kudaan di Berastagi

Kebetulan, saat itu sedang ada acara Batak Fair di taman kota. Lomba menyanyi lagu batak. Suara penyanyi emas-emas semua. Penonton yang datang nggak karuan ramainya. Kami yang hanya ingin solat dan ke kamar mandi saja, sangat susah mencari parkir dan harus terpisah-pisah dan cari-carian satu sama lain karena ramainya.

Gambar 4. Penonton Batak Fair

Setelah sekian puluh menit, akhirya kami kembali ke mobil. Saya sendiri sudah mengantungi tiga kilo mangga. Saya paling tidak tahan melihat jejeran buah mangga, apalagi warnanya kuning legit. humm. Namun ada mitos tentang mangga Berastagi, kata orang Medan, manisnya si mangga hanya di Berastagi saja. Ketika sudah sampai di Medan, mangganya berubah menjadi asem. haha ada-ada aja.

Mumpung di Berastagi, saya meminta ke teman-teman untuk mampir ke Pagoda, vihara yang kaya di Bangkok atau Myanmar itu. Meski sudah Maghrib dan kami tau tempat itu sudah tutup, teman-teman saya mengizinkan. Ya setidaknya masih bisa melihat laah walaupun dari pagar doang hehe.

Gambar 5. Foto Pagoda di Magrib Hari dari Pagar

Dari Pagoda, kami pun ingin mengakhiri perjalanan panjang kami dengan merehatkan badan. Berastagi juga punya banyak hotspring atau tempat pemandian air panas alami. Banyak banget! Jadilah kami berendam dulu selama satu dua jam sebelum benar-benar pulang ke kota Medan. Bang Ando yang membawa mobil tidak mau ikut berendam, karena dia takut tertidur ketika menyetir. Karena setelah mandi air panas, mata pasti mengantuk katanya.

Dan benar! Sepanjang jalan pulang kami tertidur pulas sampai kerumah tidak sadarkan diri. Haha. Untung saja Bang Ando beneran nggak mandi ya.. hehe.

Oya, sebelum benar-benar pulang ke rumah, kami juga sempatin seruput kopi item dan bandreks dengan view kota Medan yang aduhai. Berikut fotonya:

Gambar 6. Kerlap Kerlip Kota Medan dari Berastagi

Sekian cerita pulang, dan Selamat Berkelana, Semoga Kita Berjumpa

Andri Zainal Kari


Pesona Jalan Pulang Melalui Tele

Pulang, adalah kegiatan atau hal atau tindakan atau kata atau apapun itu yang di benci saat traveling. Karena dengan pulang, maka kita akan kembali ke "dunia nyata". Tapi tidak untuk jalan pulang ke Medan lewat jalur Barat, atau melalui Samosir atau melalui Pangunguran.

Kenapa? Nanti saya jelaskan.

Sebenarnya perjalanan kali ini bagaikan anak kecil yang masuk ke toko mainan, yang kalau jajan mau belanja mainan ini dan itu. Begitu juga kami, disaat berada di Danau Terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara serta pusat peradaban suku Batak yang terkenal ini, kami juga ingin mengunjungi semua tempat wisata yang ada disana.

Namun sayang, ibarat makan, tidak semua makanan diatas piring yang bisa dilahap sekaligus dalam satu waktu. Harus sesuap demi sesuap. Begitu juga dengan wisata, nggak (selalu) bisa semua tempat di explore dalam satu kesempatan. Bisa sih kalau ada waktu banyak dan momen yang pas. Lagian, tujuan jalan-jalan bukan untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat kan? Inti jalan-jalan itu adalah menyenangkan.

Rencananya, kami mau ke batu besar, Danau Sidihoni dan Aek Natonang (bagi yang belum tau, kedua danau ini berada di atas perbukitan Pulau Samosir sehingga sering dijuluki Danau di atas Danau), Mata Air Datu Parngongo, Pantai Pasir Putih, Patung Si Raja Luntong, dan segala macamnya lah. Sementara kondisi saat itu, kami sudah harus sampai di Kota Medan di malam hari, mengingat besok teman-teman saya mulai bekerja.

Akhirnya kami harus menghapus list itu. Satu-satunya tempat wisata yang jadi dikunjungi, Pantai Pasir Putih yang ternyata tidak menarik perhatian kami karena saat itu sedang ramai pengunjung. Jadinya tidak selera untuk berlama-lama menikmati keindahan toba dari bawah sana. Seleranya malah membeli kerupuk nasi yang murah meriah, enak, dan besar. Hehe.

Gambar 1. Pantai Pasir Putih dengan Aktifitasnya

Oke, apa yang membuat jalan pulang melalui Pangunguran menjadi menyenangkan?

1. Yang pasti pemandangan oke, persawahan dan genangan air toba selama di Pulau Samosir.

2. Jadi tau kalau ternyata ada jembatan yang menyatukan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera. Banyak juga yang bilang kalau sebenarnya, Samosir itu bukan pulau.

3. Melewati bukit-bukit batu yang bekelok-kelok, tapi bikin mata nggak berkedip saking indahnya. Bang Ando yang membawa mobil sesekali juga harus di gertak karena dia melamun melihat panorama yang ada di samping kaca. Gawat! Kalau jatuh, mati semua. Karena di sebelah kiri atau kanan adalah jurang dan jalanannya sempit. Karena jalan aspalnya memang bukit batu yang sengaja di kikis. Jadi bikinnya ya seadanya, ga bisa lebar-lebar banget. Oya, ditengah jalan, saya sempat "tidak tahan" dan meminta Bang Ando berhenti sebentar karena mau selfie. Sampah. Haha.

Gambar 2. Aksi Memalukan, Berhenti untuk Selfie. Wkwk

4. Menemukan puncak indah yang bernama Puncak Tele. Jujur ini tidak termasuk ke dalam daftar destinasi kami, tapi indahnya maksimal. Puncak ini berada di belokan jalan yang kayanya emang belokan terakhir sebelum mata kita benar-benar tidak bisa lagi melihat penampakan Danau Toba. Ada menara bertingkat 3 atau 4 (lupa lagi) disana, untuk mengintip keindahan Toba dari ketinggian. Tapi menurut saya penampakan "belokan Tele" itu sendiri jauh lebih indah daripada penampakan Tobanya, karena ada tebing dan pohon yang menghalangi pandangan. Mungkin menaranya di bikin di ujung tebing itu, baru bagus hehe.

Gambar 3. Foto Belokan Tele, Seksi Kan?

Gambar 4. Danau Toba Dilihat dari Menara Tele

Itulah mengapa, perjalanan pulang melalui Pangururan tidak menjadi hal yang di benci. Bahkan sekejap kami lupa, kalau kami sedang berada di jalan pulang. hehe

Oya, untuk Desa Tele nya sendiri, disana dingiiin banget. Sedingin itu, bahkan di rumah makan-rumah makannya, ada tempat pemanggang apinya untuk memanaskan diri. Di rumah-rumah warga juga ada kali ya? Tapi desa itu posisinya emang tinggi banget, luar biasa deh.

Sekian cerita pada artikel ini, tunggu artikel lainnya ya!
Selamat Berkelana, Semoga Kita Bersua

 

Andri Zainal Kari


Hari Indah di Samosir

Saya pernah membaca suatu artikel traveling yang inti dari artikel itu adalah, mencari rekomendasi tempat wisata terbagus itu bukanlah dari internet, tapi penduduk lokal. Saya pun mengamini perkataan itu, karena perjalanan saya selama di Sumatera Utara ini memang berdasarkan rekomendasi dari teman-teman saya penduduk asli sana. Termasuk tujuan wisata kami pagi ini di Pulau Samosir.

Gambar 1. Fajar di Pulau Samosir

 

Meskipun gagal mengejar matahari kemarin, kami tetap ingin melihat keindahan matahari di danau ini. Pengurus hotel yang kami inapi merekomendasikan beberapa puncak, diantaranya Puncak Beta, dan Puncak Sipira. Katanya, Puncak Beta sudah lumrah dan biasa saja, sedangkan Puncak Sipira jarang di kunjungi dan lebih bagus daripada Puncak Beta. Jalan ke Sipira juga gampang, mengikuti satu-satunya jalan yang beraspal ke arah selatan.

 

Kami sudah bersiap-siap sejak jam empat pagi, saking niatnya menemui senyum matahari pagi. Kami susuri bibir timur samosir dalam kegelapan, hingga langit pun mulai kebiruan.

 

Sayang, matahari dan langit tidak berdua. Bumi saat itu pun di selimuti awan. Sehingga, ya.. Tau sendiri. Senyum matahari pagi itu di sembunyikan oleh gerombolan awan yang mungkin juga merindukan terik pagi itu. Yasudahlah, kami harus mengalah dengan sang awan.

Gambar 2. Danau Toba Berselimut Awan

Tidak ada sedikit pun rasa sesal dan kesal. Karena apa yang kami temukan di sepanjang perjalanan sangat menawan. Jalanan berbelok-belok dan mendaki. Menemui lembah bahkan air terjun. Lalu melihat danau toba dari ketinggian. Itu sudah lengkap dan menyenangkan. Mata, fikiran, dan hati pun puas. Jadi kami tidak menganggap ini kegagalan mengejar matahari.

 

Gambar 3. View Toba dari Ketinggian. Menyejukkan Mata, Hati, dan Fikiran.

 

Gambar 4. Muka-Muka Bahagia Meski Tidak Ketemu Sunrise. Hehe

Gambar 5. Air Terjun Beserta Pondokan Bercorak Batak yang Ditemui di Jalanan

Ada sedikit cerita, di tengah perjalanan, kami ingin memastikan keberadaan puncak yang kami tanya. Kami tanyakan kepada orang yang kami temui di jalan, kebetulan ada ibu-ibu dan kami tanyakan kepada beliau. Namun, teman saya yang saat itu bertanya, menyapa beliau dengan panggilan "opung" atau "nenek". Entah sengaja atau gimana, jalan yang diarahkan oleh ibu tadi entah kemana. Kami melewati puncak perbukitan dengan jalan berbatu dan berjurang. Ketemu rumah lainnya, dan kembali bertanya, ternyata jalanan ini menuju kampung yang lain. Entah kampung apa namanya. Haha. Akhirnya kami memutar balik kendaraan ke jalan semula.

 

Tidak hanya itu, saat itu kondisi bensin kendaraan sudah kosong. Arah jarum petunjuk sudah diskala merah menuju empty. BAH! Mana tidak ada pom bensin, secara ini desa dan hamparan sabana semak belukar. Untungnya, disaat minuman mobil sudah sampai di titik nadir, kami menemukan rumah yang menjual bensin eceran. Warung kecil mereka mungkin belum buka, namun pintu rumahnya sudah menganga. Dari pada nanti repot, akhirnya kami beranikan mengetok rumah itu. Syukurlah, dengan ramah tulang-tulang (om-om) itu mau menjual bensinnya. Disini mengubah persepsi negatif saya tentang orang batak yang garang, ternyata mereka ramah dan suka senyum.

 

Setelah puas di puncak ini, kami pun kembali ke arah Tuk-Tuk tempat kami menginap tadi malam, dan singgah sebentar ke komplek batu Raja Sidabutar, mendengarkan sejarah dari opung-opung dan boru-boru disana sambil mengenakan ulos.

Gambar 6. Mendengar Cerita dari Opung tentang Sejarah Batak

Saya agak lupa dengan sejarah yang diceritakan, entah kemana fikiran saya saat itu. Seingat saya, ada beberapa poin yang disampaikan saat itu:

 

1. Orang yang bersuku batak itu tidak mesti beragama Kristen, karena batak itu sendiri sebenarnya sudah ada sebelum kristen masuk ke Indonesia. Sehingga jangan heran kalau ada orang muslim yang juga batak. Di iyakan oleh bang Ando, orang batak asli.

Gambar 7. Dengar Cerita Sejarah Pakai Ulos, Bareng Bang Ando dan Eca.

2. Orang batak itu tidak boleh nikah sesuku, dan bujang-bujang bataknya disarankan untuk mencari pasangan hidup yang berbadan montok. Makanya empat buah payudara wanita menjadi simbol dari batak.

3. Orang batak, pasti 'ingat' kampung halaman.

4. Tulang-tulang pengabdi raja sidabutar, meskipun di kubur di ujung dunia, tulangnya tetap di pulangkan ke samosir.

 

Kurang lebih itu lah poin-poin random yang saya tangkap dari opung-opung dan boru-boru itu. Padahal sudah mendengar cerita dari dua tempat dan dua kali saat itu, masih aja nggak nangkep semua ceritanya. Berarti, saya harus kembali ke Samosir. Hehe.

Gambar 8. Dengar Cerita Boru tentang Batak

 

Sekian cerita kali ini, pokoknya kalau ke Samosir, wajib dengar sejarah Batak Ya. Yunggu postingan berikutnya. Hehe

 

 

Selamat Berkelana, Semoga Kita Bersua

 

 

Andri Zainal Kari


Membelah Danau Toba

Rintik-rintik hujan menemani perjalanan kami dari pusat kota Balige menuju pelabuhan Ajibata di Parapat, setelah puas Belajar Batak dari Balige. Kembali, kami menikmati perbukitan, pedesaan, persawahan, perkebunan, dan perjalanan sambil memandang genangan air Toba yang tampak bahagia menyambut tetesan-tetesan deras air karunia tuhan. Ini masih pada hari yang sama dengan hari dimana kami Mengejar Matahari ke Barat.
Untuk bisa mencapai pulau Samosir, pulau yang ada di tengah danau Toba, kami harus mebelah danau menggunalan kapal feri atau kapal Roro. Sesampainya di pelabuhan, ternyata antreannya sangat panjang. Kami harus menunggu lama, sampai hujan pun bosan dan langit berhenti menangis, barulah kuda besi kami dan puluhan lainnya mendapatkan giliran untuk menaiki ikan paus besi lebar dan ngambang itu.
Gambar 1. Penerangan Kapal Feri Toba - Samosir di Malam Hari
Ada hal yang menarik perhatian semua pengguna jasa feri saat itu. Eh, saya rasa bukan saat itu saja. Sepertinya hal ini terus terjadi. Banyak bocah-bocah lokal yang mencari uang jajan tambahan di dermaga, namun dengan cara mereka.
Pertama, belasan bocah bugil nyemplung di sekitaran danau. Mereka berenang heboh, sangat heboh. Bersorak sorai meminta kepada penumpang untuk melempari uang ke dalam air agar mereka selami sang danau untuk menggenggam logam-logam bulat itu. Setiap ada lemparan uang, mereka menyelam kebawah, lalu mencuat lagi ke permukaan. Bagi yang berhasil mendapatkan uangnya akan berteriak senang, sendangkan yang tidak, tetap berteriak meminta penumpang kapal untuk melemparkan uang yang lainnya. Mereka menyelam, lalu muncul kepermukaan. Begitu seterusnya, macam teh celup yang sedang dicelup-celupkan. Pengunjung pun terus meronggoh kantongnya karena eforia bahagia dan semangat bocah-bocah cilik itu. 
Gambar 2 dan 3. Pengunjung Mendokumentasikan Bocah Cilik Celup
Kedua, melalui suara emas mereka. Tahu kan? Kalau tidak pandai bernyanyi bukan orang Batak namanya. Beberapa cilik yang tidak nyemplung pun menawarkan suaranya dengan sopan kepada penumpang. Mereka akan bernyanyi kalau diizinkan terlebih dahulu. Sopan sekali. Lirik-lirik batak pun akhirnya di lantukan dengan deras dan merdu oleh mereka, melawan teriakan para bocah celup dan suara aktifitas pelabuhan. Suara mereka tetap menang. Menambah kesyahduan suasana senja saat itu.
Gambar 4. Bocah Batak dengan Suara Emasnya
Ketiga, pedagang. Kalau ini standar, sama saja dengan pedagang asongan yang biasa ditemukan di angkutan atau tempat umum. Namun bocah cilik yang menjajakan makanan tidak seberapa. Kebanyakan orang yang lebih dewasa. Mungkin kebanyakan yang dijajakan adalah buat orang dewasa, yaitu tuak. Ada kopi, teh, dan beberapa minuman saset juga sih, beserta telur asin. Saya waktu itu membeli telur asin dan kopi hitam. Lumayan buat menghagatkan badan di tengah hembusan angin malam toba.
Gambar 5. Pemandangan Parapat dari Tengah Danau Toba Menjelang Malam
Mobil kami bisa menginjak pulau samosir, setelah tiga jam lebih perjalanan di danau dan antrean masuk dan keluar kapal. Lumayan lama. Tapi ada untungnya juga antrean yang membuat hujan tadi reda. Kami bisa mendapatkan euforia senja dermaga Ajibata ini. Kalau hari hujan? Kami tidak yakin akan ada bocah-bocah celup dan pengamen itu. Kalau hujan bocah celup tidak bisa teriak, dan kalau hujan penumpang akan menunggu dari dalam mobil atau dari tempat duduk. Tapi entahlah. Haha.
Gambar 6. Saya, Eca dan Puluhan Kendaraan Lainnya

Selamat Berkelana, Semoga Kita Bersua
Andri Zainal Kari